Siapa di sini yang suka viewing point? *ngacung*. Siapa di sini yang suka gratisan? *ngacung*

Di sela ngumpulin niat untuk nulis tesis yang tak kunjung ada, kali ini saya menulis tentang viewing point gratisan di kota-kota Eropa yang pernah saya datangi. Melihat kota dari atas itu luar biasa, rasanya kecantikannya bertambah berkali lipat dan kita jadi punya perspektif baru dalam melihat suatu kota. Viewing point yang saya maksud adalah tempat tinggi yang dapat kita jadikan spot melihat kota dari atas.

Di mana-mana, yang namanya menuju ketinggian atau melihat sesuatu dari atas, pasti bayar. Naik ke Monas, bayar. Naik ke bar di pencakar langit Jakarta juga bayar. Apalagi naik Eiffel Tower? Nah, semoga panduan dari saya kali ini bisa membantu para desperate backpacker kayak saya untuk melihat kota dari atas, gratis. 

Paris
Di kota besar yang luar biasa cantik ini, ada dua tempat yang bisa kita datangi: Galeries Lafayette dan Basilica du Sacre Coeur.

Rooftop Galeries Lafayette: mal ini biasanya banyak orang Asia-nya karena mereka ras di dunia yang paling doyan belanja, hahaha. Bahkan saya pertama kali ketemu orang Indonesia di Eropa, ya pas di mal ini. Berbeda dengan mereka, saya nggak beli produk-produk fashion dan kecantikan yang mereka jual, tapi saya langsung cari eskalator menuju lantai teratas, rooftop-nya.
Opera, dilihat dari rooftop Lafayette
Teras Basilica du Sacre Coeur, di Montmartre: mengunjungi basilika ini plus-plus, gereja keren banget, view-nya oke punya, ada Moulin Rouge tempat berfoto di depannya, banyak toko-toko suvenir murah, dan suasana Montmartre ngangenin. Kalau kita ke basilika ini, kita akan cukup mendaki ke atas karena letaknya memang di bukit. Worth the energy, the view is stunning. Walaupun Eiffel Tower nggak kelihatan di horizonnya, tapi kita bisa melihat Paris dari atas dan gratis. 
Paris dari teras basilika, mendung karena sehabis hujan
Berlin
Gesunbrunnen Bunker: Ada 1 tempat gratis dan bersejarah yang bisa didatangi sewaktu di Berlin. Secara pribadi, saya belum pernah ke sini karena tidak sempat, but I googled it for you. Nama tempat itu adalah Gesundbrunnen Bunker, salah satu bunker Jerman yang masih bertahan berdiri tegak. Terhubung stasiun U-Bahn, jadi tempat ini gampang dicapai. Balkonnya di menara pantau paling atas bisa diakses gratis.
Menara pemantau di bunker (image courtesy of herbnl - Flickr account)
Wroclaw
Wroclaw University: Sebenernya karena host saya mahasiswa di sini, jadinya saya bisa diselundupin masuk ke menara tertinggi Wroclaw University, hehehe. Menarik banget muter-muter di dalam universitas ini. Duh, jadi kangen Eropa... :(
View dari puncak menara Wroclaw University
Praha
Prague Castle: Berkunjung ke Praha, harus mampir Prague Castle. Titik, gak ada tapi-tapi. Selain kompleks kastilnya luar biasa besar dan bersejarah, kita bisa muter-muter di dalemnya dan melihat view sebagus ini. Kalo beruntung. kita bisa nonton proses pergantian castle guard, mirip yang ada di Inggris. Kece berat, walaupun tentara Ceko. Loh.
View dari Prague Castle
Bratislava
Bratislava Castle: Saya perhatikan, hampir semua ibukota atau kota yang dulu pernah menjadi ibukota negara di Eropa Tengah atau Timur pasti memiliki kastil besar di puncak bukit, salah satunya di Bratislava. Nah, halaman-halaman kastil tersebut biasanya luas banget dan gratis, dari sini kita bisa melihat skyline kota. Tjakep.
View dari halaman Bratislava Castle, kalau naik ke menaranya pasti akan lebih bagus, tapi bayar :)
Budapest
Kompleks Buda Castle: karena Budapest terbagi menjadi dua, Buda dan Pest, lebih baik melihat kota ini dari sisi Buda yang berbukit. Sisi Pest datar saja tanpa ada bukit, sehingga kalau mau nyari viewing point pun harus dari puncak bangunan, yang pasti akan bayar. Ada 2 tempat yang bisa didatangi selain kompleks Buda Castle, yaitu Gellert Hegy.

Hanjeeer, Budapest emang my favorite city!
Gellert Hegy: artinya Gellert Hill, memang sebuat bukit menjulang setinggi 235 m (hampir dua kali tinggi Monas) menghadap Sungai Danube. Bukit ini dinamakan dari Saint Gerard yang dibunuh dari bukit ini menuju jurang di bawahnya. Sekarang di sekitar Gellert Hegy adalah rumah-rumah mewah milik pejabat dan duta besar yang bertugas di Budapest. Yaiyalah, view-nya aja priceless begitu.
Skyline Budapest dengan Sungai Danube yang memisahkan Buda (kiri) dan Pest (kanan)
Ljubljana
Ljubljana Castle: as mentioned above, a castle in the hill.

Roma
Terazza del Pincio: teras ini sebenernya adalah sebuah balkon yang menghadap ke Piazza san Popolo. Teras ini luas, saya suka berlama-lama di sini memperhatikan orang :)
Piazza del Popolo, yang pernah masuk film Angels and Demons :)

last, but not least...

Florence
Piazza Michaelangelo: the best piazza I ever been! Mungkin karena Florence, mungkin karena skyline di sini begitu perfect, mungkin karena sunset di sini luar biasa indah... Duh, kangen Florence.

The sunset that I really miss...
That's all folks! 9 kota di Eropa yang pernah saya datangi yang mempunyai viewing point gratis untuk melihat skyline kota. Aren't they all beautiful? 
Read More
Disclaimer: tulisan ini pernah dimasukkan ke www.catperku.com sebagai Guest Post

--------------------------------------------------------

Setelah ngumpulin pengalaman jalan-jalan di negara maju yang jauh lebih baik dari Indonesia dari segi ekonomi, infrastruktur dan pemerintahan, entah setan apa yang menghasut saya beli tiket ke Yangon, Myanmar. Pembeliannya pun cukup impulsif karena harga tiket PP-nya dari KL hanya 500 ribu rupiah. Dari awal saya memang tidak punya ekspektasi tinggi terhadap negara ini karena sebagai negara yang masih membuka diri, pasti nggak gampang traveling di sini, apalagi sendirian.

Setelah struggling dengan gigitan bed bugs di hostel busuk KL, berangkatlah saya ke KLIA2 untuk terbang ke Yangon. Sebelumnya, penerbangan saya ini di-reschedule jam berangkatnya sehingga kedatangan di Yangon sekitar 19.30 setempat. Ini jelas-jelas membuat saya gelisah karena saya sudah booking tiket bus malam JJ Express dari Yangon ke Bagan jam 20.00. Saya berusaha mereka-reka adegan gimana caranya dari turun pesawat sampai ke Terminal Bus Aung Mingalar dalam 25 menit. Imajinasi ini termasuk adegan lari secepat The Flash, lompatin loket imigrasi, sampai nge-drift pake taksi lokal. Huh, mustahil.

First encounter saya dengan orang Myanmar adalah di gate keberangkatan. Saya melihat wajah tipikal orang Asia Tenggara yang biasa ditemui di Thailand atau Kamboja. Wajah pria-prianya hitam dan wanita-wanitanya putih dengan dibalur bedak putih. Bedanya, pakaian mereka saya anggap norak karena suka pakai berlapis-lapis dan tabrak warna. Beberapa prianya juga mengecat rambutnya dengan warna ngejreng. Sejauh mata memandang, belum tampak yang memakai longyi (sarung), pakaian bawahan tradisional Myanmar. Aroma mereka pun khas, seperti bunga yang sudah sangat layu. Mereka juga sudah sangat familiar dengan smartphone, merek yang paling banyak dipakai adalah merek Korea yang huruf depannya “S”. Banyak yang asyik ngobrol ditelepon dengan bahasanya (gile, roaming-nya mahal tuh! Mereka tahu nggak ya?), dengerin musik pakai loudspeaker smartphone dengan ditempel ke kuping dan nyanyi-nyanyi sendiri, dan duduk ngobrol sambil bagi-bagiin kotak rokok dari 1 slop. Saya senyum-senyum sendiri aja melihat tingkah ajaibnya. Ketika duduk sebelahan dengan mereka, saya cukup kasihan sama mereka karena ketika memegang paspor merah dengan huruf-huruf cacing di sampulnya, mereka juga melampirkan secarik kertas visa Malaysia. Gile, ke KL aja masih pake visa!

Tipikal orang Myanmar, semua pakai longyi, kayak mau sholat Jumat

Pas boarding, mereka pun lucu cenderung norak! Ada yang terpisah dari temannya lalu bingung-bingung sendiri nggak duduk di kursinya, ada yang masih asyik ngobrol di telepon, ada yang nggak ngerti di mana lokasi kursinya, ada sudah di kursi tapi berdiri-berdiri nggak jelas teriak-teriak ke temannya di depan, ada yang mau take off masih tetep nggak pake seat belt. Fiuuuhh… good luck deh buat cabin crew-nya!

Salah satu bapak-bapak yang tadi bagi-bagi kotak rokok duduk di sebelah saya, pfffttt… baunya! Nggak mau jahat, saya duduk anteng di jendela, ngeliatin sayap pesawat. Tiba-tiba ponsel bapak itu (sebutlah Bambang) bunyi dan dia mengangkatnya. Ebuset, udah mau take off ini! Nggak lama, pramugari datang dan menyuruhnya mematikan ponsel dengan sopan. Kena lo sama pramugari, hahahaha! Pesawat mulai mundur dan taxi, saya lalu kepo, ngeliatin ponselnya terus. Kirain udah dimatiin, emang dasar nggak ngerti bahasa Inggris, ponsel Bambang berdering lagi pas pesawat sudah ambil posisi di runway! Bleguk!

You have to turn it off now,” kata saya kepadanya, menunjuk-nunjuk ke ponselnya. “NOW. OFF.”

Fiuh. akhirnya dimatiin jugaaaa…. Entah berapa orang lagi di pesawat yang nggak ngerti harus mematikan ponsel dan tetap membiarkan ponselnya hidup saja selama terbang. Saya jadi lebih kuat berdoanya dan nggak bisa tidur karena banyak yang diperhatikan dari orang-orang lucu ini. Dan jujur saja, akumulasi aroma mereka membuat saya nggak bisa tidur karena membuat saya nggak nyaman selama penerbangan. Mana Bambang terus-terusan ikutan ngeliat pemandangan di jendela samping saya dengan bau badan dan mulutnya yang semerbak. Hush… hush… hush… 
Lah, gelap dari atas!
Mendekati Myanmar, first officer bilang kalau 15 menit lagi kami akan landing. Saya melihat ke daratan Myanmar yang sebentar lagi saya jelajahi, gelap gulita! Hanya ada beberapa titik lampu dan menyebar, selebihnya hitam saja. Masak sih Myanmar masih jarang listrik? Lampu di kota Yangon saja biasa, seperti Bondowoso malam hari.
Yangon International Airport, udah bagus :)
Perjalanan 3 jam di kopaja terbang (baca: AirAsia A320) akhirnya mengantarkan saya ke Yangon International Airport pukul 19.28 yang secara penampakan mirip Terminal 3 Soekarno-Hatta, kecil dengan desain modern. Saya pun lari-lari melewati orang-orang dan buru-buru mencari konter imigrasi dan langsung mengantri. Dalam perjalanan saya melihat pemandangan yang nggak pernah saya lihat: manusia Myanmar, banyak, pake longyi, berdiri menempelkan muka ke kaca, dan melambai-lambai ke saudaranya yang sedang berjalan ke imigrasi. Seketika saya excited karena sudah sampai di sini!

Kelar proses imigrasi, saya pun berjalan keluar mencari ATM dan menarik uang kyat. Kelar urusan perduitan, puluhan orang menghampiri saya, “Taxi? Taxi?” dengan mulut bau pinang. Saya menghampiri salah satu supir taksi ber-longyi.

Taxi to Aung Mingalar?” Dia manggut-manggut, “How much?”
“8.000.”
No. It’s not that far! 5.000.” Saya sudah riset dulu di Google Maps. Ongkos 8.000 adalah ongkos ke pusat kota, sementara lokasi terminal bus ini agak di pinggiran.
Dia menggeleng. Oke, gak papa. Saya lalu pindah ke supir taksi yang lain, “Aung Mingalar? How much? I only want 6.000.” Ya gak papalah saya naikin dikit.
Okay, okay, 6.000.”
Okay. Let’s go fast,” kata saya ala peserta The Amazing Race.

Semua supir taksi yang tadi ngerubungin saya nggak ada yang bermaksud jahat, menipu, atau overcharge turis. Taksi mereka nggak punya merek, dengan mobil berwarna putih jadul merek Toyota Corolla 1970-an atau Toyota Super Roof 1980-an. Penampakan supirnya pun nggak biasa. Perawakan dari muda sampai tua dengan gigi-gigi keropos dan berwarna kuning kemerahan akibat mengunyah pinang. Nggak ada merek apalagi seragam, mereka cuek aja pake longyi sehari-hari (belakangan saya tahu kalau mereka cuma pakai celana dalam supaya anginnya semilir, hahaha). Jangan harap ada AC di dalam taksi, udah syukur hanya kamu penumpangnya. Terkadang mereka mengambil beberapa orang lain untuk memenuhi mobil bahkan bagasinya. Yep, manusia dimasukkan ke bagasi mobil. Ajaib.
Tipikal taksi di Myanmar (image courtesy of www.go-myanmar.com)

Dan ternyata Myanmar ini punya aromanya sendiri: campuran bunga atau buah busuk dan daun/biji pinang. Dalam satu negara, saya ke 3 kota, aromanya sama! Khas banget dan akan nggak kebayang bagi yang belum pernah ke sana. Aroma ini muncul dari banyaknya sesajen bunga dan buah untuk Buddha dan banyak sekali yang meludah pinang di jalan-jalan. Pemandangan biasa banget kalo ngeliat ludah merah di trotoar, jalan, atau jembatan. Kalau di Indonesia orang banyak merokok, mereka ngunyah pinang. Saya berasa main lompat-lompatan karena selalu berusaha menghindar supaya nggak nginjek. Supir taksi aja pada cuek ngebuka pintu mobil dan ngeludah ke jalan waktu nunggu lampu merah. Iyuuuuhhhh….

Jalan kota Yangon lebar, terdapat 4 lajur, 2 untuk masing-masing arah dan mobil berkendara di lajur kanan padahal setir di kanan! Bikin deg-degan gak sih kalo supir taksi ini mau nyalip? Apalagi bus, bayangin kalo pintunya ada di kiri dan kita turun di tengah-tengah jalan. Greget banget kan.
Jalan di Yangon, dengan Bogyoke Market di sebelah kiri

Pukul 20.10 saya sampai di terminal Aung Mingalar di konter JJ Express, merek bus yang sudah saya book untuk ke Bagan. Saya bertanya ke petugas yang di konter apakah bus yang sedang parkir di depan adalah bus saya. Berhubung pengucapan Bahasa Inggris orang Myanmar sangat susah untuk dimengerti, saya berusaha menebak-nebak kalau bus yang saya book sudah berangkat 10 menit yang lalu dan bus yang sedang parkir itu ke Mandalay dan sudah penuh. Mati gua. Saya bertanya lagi apa ada line bus lain yang bisa ke Bagan malam ini juga. Dia bingung. Kondisi saat itu sangat ramai, banyak orang lokal dan petugas saling tanya-tanya karena kurang mengerti Bahasa Inggris. Akhirnya ada cewek lokal, namanya Mi Mi, dengan Bahasa Inggris terbagus se-Myanmar yang menawarkan membantu saya mencarikan bus. Kami keliling ke konter-konter bus lain. Nope, malam ini tidak ada connection ke Bagan lagi, semua sudah berangkat. Secara umum, orang Myanmar ramah sekali dan mau membantu. Beberapa orang mengerubungi saya berusaha membantu tetapi keterbatasan bahasa.
Bus malem ke Mandalay, doa pujian untuk Budha disetel kenceng-kenceng non stop

Atas saran Mi Mi, saya ke konter line bus Elite di bagian lain terminal, cukup jauh bila berjalan kaki. Mi Mi bilang hanya 1000 kyat naik taksi. Elite juga nggak punya koneksi ke Bagan malam itu, saya lalu berhenti sejenak dan berpikir. Oke, saya memutuskan untuk mengganti itinerary, dari Yangon-Bagan-Inle Lake-Yangon menjadi Yangon-Mandalay-Bagan-Yangon. Saya lalu membayar tiket bus ke Mandalay, mbak-mbak konter menuliskan tiket dan nomor tempat duduk dan saya langsung masuk ke bus. Dengan formasi 2-2, ber-AC, dikasi bantal dan selimut, dan ada bus attendant, saya senang sekali karena di Myanmar sekalipun, saya bisa traveling dengan nyaman. Perjalanan akan memakan waktu 9 jam sejauh 636 km, hampir sama dengan Jakarta ke Madiun. Semua penumpang adalah orang lokal kecuali saya. Untungnya di samping saya tidak ada orang, jadi bebas ngambil 2 kursi untuk sendiri. Saya pun istirahat sambil ditemani doa-doa pujian untuk Buddha yang disetel sepanjang malam.

Hanya dalam beberapa jam, saya bisa bercerita banyak dan mendapat pengalaman kultural yang berbeda. Myanmar, you’ve been awesome. Saya menanti apa yang akan terjadi selanjutnya di Myanmar karena pasti akan begitu banyak kejutan. Stay tuned!
Read More
Myanmar. Well, mungkin sebagian dari teman-teman saya mengangkat alis tinggi-tinggi ketika dengar saya akan solo backpacking ke Myanmar. "Ada apaan di sana?" Jujur aja, sebelum berangkat, saya terus-terusan mikir, "Lah, ngapain sih lu beli tiket ke Yangon? Sendirian lagi!" Tiket 500 ribu pulang pergi itu sangat menggoda, anak muda! Bodo amat, berangkat aja, masalah di sana, dipikirin nanti aja. Dengan modal informasi yang nggak terlalu banyak, pergilah saya ke Yangon dengan transit di Kuala Lumpur. Di Kuala Lumpur, saya nggak hanya dapat gigitan kutu kasur di Fernloft Hostel KL, tapi saya juga baru nyadar kalo USD yang saya siapin ketinggalan di rumah! Walah, padahal USD adalah "modal" awal saya untuk survive di sana karena saya gak tahu ATM saya berfungsi atau enggak di sana. Hahaha, antara panik dan ngebego-begoin diri sendiri, saya akhirnya cuma bisa berdoa, kartu ATM saya dan mesin ATM di bandara Yangon baik-baik saja sehingga saya bisa tarik uang dalam kyat.

Hari 1: Jakarta - Kuala Lumpur (by Lufthansa)
Akomodasi: Fernloft Hostel KL, gak recommended. Petugasnya judes, area sarapannya jorok, kasurnya banyak kutunya. The worst.

Hari 2: Kuala Lumpur - Yangon (by AirAsia)
Begitu sampai di bandara Yangon, saya super excited melihat orang-orang lokal yang memakai longyi berdiri berjejeran menunggu yang dijemput. Bahkan petugas custom menyapa saya dengan bahasa lokal karena muka orang Indonesia sangat mirip dengan muka orang Myanmar. Saya langsung mencari ATM dan memasukkan kartu dengan harap-harap cemas. Duh, gimana kalo gak bisa? Ternyata mesin ATM-nya rusak. Walah, saya nggak punya uang sepeser pun, semua uang ada di tabungan dan bego banget saya ninggalin USD di rumah. Saya lalu keluar mencari ATM lain dan mencoba menarik uang. Thank God it worked! Selesai urusan duit, saya keluar dengan hepi dan mencari taksi.

Taksi dari RGN ke Terminal Bus Antar Kota Aung Mingalar: MYK 6.000. Kalau mau ke kota-kota tujuan utama di Myanmar seperti Inle Lake, Bagan, dan Mandalay, naik busnya dari terminal ini.

Tiket bus dari Yangon ke Mandalay (Elite bus): MYK 10.700. Bus malam yang sampai di Mandalay besok paginya, 9 jam perjalanan darat dengan jalan yang belum muluss... Dapet selimut, bantal, dan refreshing kit (odol, sikat gigi, dan tisu basah).

Bekal di bus, roti 2 buah MYK 1.300

Bus malam dari Yangon ke Mandalay
Hari 3: Mandalay
Dengan mata beler karena nggak tidur, saya turun dari bus pukul 4 pagi dan bingung mau ke hotel mana pagi buta begini. Karena saya sudah mencatat alamat-alamat hotel yang mau saya jadikan tempat menginap, saya langsung nyamperin supir taksi yang mana aja dan bilang saya mau ke Royal Yadanarbon Hotel. Bukannya saya nggak punya spirit backpacker naik taksi melulu, soalnya di Myanmar, transportasi umum untuk turis masih susah untuk dimengerti dan kurang manusiawi. Pokoknya kalo ke Myanmar, berasa banget waktu seakan berhenti, peradaban modern belum masuk ke sini, kecuali ponsel dan internet (yang juga terbatas di hotel saja). 

Taksi ke Royal Yadanarbon Hotel: MYK 4.000
Royal Yadanarbon Hotel, 1 malam: MYK 22.000 atau USD 20

Hotel ini sangat recommended walaupun letaknya agak melipir di pinggir kota. Concierge-nya baik banget, membolehkan saya check-in pagi buta, padahal biasanya kan baru bisa check-in jam 13.00. Sarapan enak dengan teh khas Myanmar yang super nikmat. Sarapan ini saya dapatkan dua kali karena saya nyampe pagi buta, padahal saya hanya sewa kamar 1 malam, ehehehe. Mereka juga membantu saya mem-booking transportasi ke Bagan untuk keesokan harinya. Oh, dan mereka juga mencarikan ojek harian yang bisa saya sewa. Pokoknya mereka berusaha yang terbaik untuk melayani tamu-tamu hotel. Kamar yang bersih, baru, dan rapi. Daaan... internetnya jalan, itu yang penting. 

Ojek harian Mandalay: MYK 12.000 (seharian)

Ojek ini saya pakai untuk melihat yang penting-penting Mandalay, dimulai dari Mandalay Palace, Mandalay Hills, U-Bein Bridge, sampai ke tempat-tempat workshop patung Buddha dan kertas emas. 

Donasi pagoda di Mandalay Hills MYK 100
Donasi Mahamuni Pagoda MYK 500
Donasi titip sepatu MYK 200
Makan siang MYK 1.000
Parkir MYK 200

Irrawady River, lagi musim kering, jadi cukup surut

Mandalay Hills

Enaknya punya ojek pribadi, bisa dijadiin fotografer seharian, haha
U-Bein Bridge
Hari 4: Mandalay - Bagan
Pagi-pagi saya check out dan sarapan. Hari ini saya akan ke kota gersang sekaligus sangat bersejarah bagi Myanmar: Bagan. 

Tiket masuk kawasan Bagan: MYK 22.000 (deuuu, mahalnya)

Karena waktu saya sempit banget, makanya saya langsung sewa delman buat nganterin saya ke pagoda-pagoda terpenting di Bagan dan nungguin saya nunggu sunset di puncak pagoda.

Sewa delman seharian: MYK 20.000 (worth every kyat, abangnya lucu dan baik banget)
Makan siang: MYK 2.500

Bagan, sesuatu banget kota ini. Tapi masuknya mahal, hiks :'(
Tipikal transportasi umum di Myanmar, yang ini ukurannya sedang.

Malamnya saya langsung cabut naik bus malam ke Yangon, sempet ketemu dengan rombongan backpacker Indonesia juga dan jadi teman perjalanan sampai Yangon. 

Tiket bus malam ke Yangon dari Bagan: MYK 18.500, Busnya kece, VIP dengan formasi tempat duduk 2-1, dapet snack dan minuman dari pramugarinya, ehehehe.

Hari ke 5: Yangon

Hostel yang saya pilih letaknya dekat Botataung Pagoda, namanya Hninn Si Budget Inn. Hostel ini basic, tapi yang nggak saya suka adalah dinding antar kamarnya adalah kayu, jadi kita bisa mendengar riuh orang dari luar atau kamar sebelah. Internetnya lumayan kenceng dan saya boleh check in lebih awal karena bus saya nyampe pagi buta. Saya jalan kaki muter-muter sampai ke Bogyoke Market, dari sana saya ke Shwedagon Pagoda, pagoda terbesar di Myanmar. 

Taksi dari terminal bus ke Hninn Si Budget Inn: MYK 4.000
Makan siang: MYK 2.500
Taksi ke Shwedagon Pagoda: MYK 2.000
Tiket masuk Shwedagon Pagoda: MYK 8.000
Makan malam: MYK 3.500
Shwedagon Pagoda

Weekend paling seneng sembahyang di kuil :))

Kiri, gedung putih: Bogyoke Market
Hari ke 6: pulang!

Sum up: itinerary saya adalah Jakarta - Kuala Lumpur - Yangon - Mandalay - Bagan - Yangon - Kuala Lumpur - Jakarta.

Semoga bermanfaat!

-@travelitarius next destination: Manila
Read More
Jangan bilang Indonesia kurang punya museum yang keren dan tertata. Jika sedang berkunjung ke Solo, luangkan waktu untuk mendatangi House of Danar Hadi yang bertempat di Jalan Slamet Riyadi, jalan utama kota. Museum ini dijamin bisa membuat kita berujar, "Wah, museumnya keren banget!"

House of Danar Hadi adalah kompleks bangunan bersejarah yang digunakan untuk wisata budaya bertema batik. Kompleks ini terdiri dari galeri Danar Hadi, Museum Batik Kuno, Cafe Soga, dan multi function purpose hall Ndalem Wuryaningratan. 
Tampak depan House of Danar Hadi (HDH)
Kompleks ini merupakan bangunan cagar budaya, yang dulunya adalah kediaman cucu dari Pakubowono IX dan kediaman menantu Pakubuwono X. Kediaman inilah yang menjadi bangunan utama yang mendominasi lahan kompleks yang disebut sebagai Ndalem Wuryaningratan. Gedung ini dibeli oleh H. Santosa Doellah, pemegang merek Danar Hadi, Sewaktu saya ke sana, saya tidak bisa memasuki bangunan tersebut karena hanya dibuka ketika ada hajatan.
Ndalem Wuryaningratan
Paling depan adalah galeri Danar Hadi yang menjual batik-batik berkualitas mulai dari kain, pakaian jadi, alas kaki, sampai pernak-pernik seperti boneka. Harganya? Mahal, tapi worth the price. Karena tujuan kami ke sana adalah mengunjungi museumnya, kami langsung ke gedung museum yang ternyata ada di pojok kiri belakang. 
Pintu masuk museum. Sampai dalam, udah gak boleh poto-poto
"Ada yang bisa dibantu?" tanya petugas museum, membuka pintu museum dan tersenyum kepada kami yang kebingungan di depan pintu. 
"Eh, iya, Pak," kata saya, "kami mau masuk ke museumnya."
"Sudah beli tiketnya?" 
"Belum," jawab kami dengan bodoh.
"Silakan dibeli di kasir depan dulu ya Mbak."

Oooh, ternyata harus beli tiket masuk dulu di gedung galeri yang menjual batik yang sebelumnya kami skip karena sok tau. Berbekal kartu mahasiswa, kami mendapatkan harga diskon, yaitu Rp 15.000 dari awalnya Rp 35.000. Hehehehe, the perks of being a student!

Semua rombongan yang masuk ke museum harus mengikuti guided tour. Wah keren kayak di Museum Kebudayaan Jawa Ullen Sentalu di Kaliurang Jogja. Bedanya, karena kami datang berempat, kami lebih intim dengan guide kami (cieh), namanya Mbak Inggit yang informatif banget. Guide kami berjilbab, memakai batik, berkacamata, medok, dan ayu, tipikal cewek Solo banget. 

Mulailah kami berkeliling selama 45 menit ke 11 ruangan yang ada di sana. Sewaktu ke sana, suasana sudah sepi sekali, padahal waktu itu hari Minggu jam 3 sore. Museum ini memegang rekor MURI sebagai museum dengan koleksi batik terbanyak, sebanyak 10.000 helai. Namun tidak semua dipajang, yang dipajang ketika kami datang sekitar 600 helai saja. Dari semua itu, kain-kain dipajang bergantian. Kami dilarang mengambil foto dan menyentuh kain di dalam museum. Ruang pertama kami diceritakan tentang filosofi dan makna dari kain-kain yang dipakai raja-raja zaman dahulu. 

Batik-batik dipajang direntangkan di sebilah kayu dan dikelompokkan berdasarkan jenisnya. Batik Solo, batik Jogja, batik Pekalongan, batik Madura, batik Lasem, batik Cirebon, batik Belanda, batik Cina, batik India. Saya suka sekali penataan di dalam museum ini, semuanya ditata dengan detail dan memperhitungkan estetika. Apalagi bangunan yang berciri Belanda dan gebyok-gebyok Jawa pembatas antar ruangan membuat kombinasinya makin cantik. 

Sebagian besar koleksi yang dipajang adalah koleksi milik pemilik Danar Hadi didapatkan dari pembelian dan menang lelang, jadi museum ini bisa dibilang museum swasta. Ada juga batik-batik hibah dari orang-orang penting di Indonesia, seperti mantan presiden dan pengusaha.

Di ruangan lain kita juga diperlihatkan alat dan bahan dalam membuat batik, seperti kain mori, lilin, warna celupan dari tumbuh-tumbuhan, serta berbagai macam jenis canting. Diperlihatkan pula step-by-step membuat sehelai batik, dari kain putih polos, pembuatan pola, menutup dengan malam, dicelup, diluruhkan, ditutup lagi dengan malam, dicelup lagi sampai warna yang diinginkan sudah keluar. Tak heran, sehelai kain batik tulis harganya bisa jutaan rupiah. 

Setelah guided tour selesai di ruang terakhir, kemudian kami tiba-tiba sudah di dalam galeri yang menjual batik. Rupanya pintu terakhir langsung nembus ke sana dan seketika Mbak Inggit mengunci pintu di belakang kami. Oalah.
Detail dinding samping Ndalem Wuryaningratan
Overall, saya suka sekali dengan museum ini. Inilah standar museum yang seharusnya ada di Indonesia. Walalupun harganya lebih mahal dari museum yang dikelola pemerintah, tapi kalau penataan dan guided tour-nya memuaskan pengunjung juga gak rugi bayar lebih mahal. 

Recommended! Harus dikunjungi kalo ke Solo!

Alamat:
Jl. Brigjen Slamet Riyadi 261, Surakarta
Tel.: 0271 714326

Jam Buka
Setiap hari, kecuali 17 Agustus dan hari-hari raya Islam
09.00 - 16.30

@travelitarius exam mode = ON
Read More
Disclaimer: Tulisan ini pernah saya masukkan ke www.jalan2liburan.com sebagai "Guest Post"

--------------------------------------------------------------------


Tahun 2014 lalu (Juni - Juli 2014) saya akhirnya berhasil solo backpacking ke Eropa, destinasi yang udah saya jadikan target selama menabung. Total perjalanan yang saya jalanin sendirian adalah 50 malam di 13 negara dan 28 kota, dengan budget rendah. Seberapa rendah? 15 euro per hari atau sekitar Rp 240.000 per hari. Kalau ditambah dengan tiket pesawat yang sekitar 11 jutaan, transportasi darat, dan pengeluaran darurat saya habis sekitar 32-an juta rupiah. Murah? Emang. Sebelum pergi, saya udah kenyang komentar orang, “Emang cukup?”, “Bisa makan nggak tuh?”, “Tinggal di mana budget sekecil itu?”. Tapi kalo saya dengerin terus, ntar nggak pergi-pergi.

Budget 15 euro per hari itu adalah makanan dan transportasi keliling kota. Gimana caranya saya bisa survive traveling di Eropa, apalagi Eropa Barat, dengan hanya 15 euro per hari?

I couchsurfed a lot. Buat yang masih tidak familiar dengan Couchsurfing (CS), saya coba jelaskan ya. CS adalah komunitas traveler yang saling memberikan akomodasi gratis buat para anggotanya, misi utamanya adalah dengan saling mengenal dan mengunjungi, kita akan bisa menciptakan pengertian satu sama lain. Peace, open-mindedness, youth-spirit, dan sharing adalah nafas CS. Selain saya bisa menghemat uang, karena setengah dari budget perjalanan pasti akan habis di akomodasi, saya bisa nambah teman, mengenal kehidupan dan kebudayaan orang lokal, mengetahui hal-hal yang nggak diketahui turis, dan kalo saya kembali ke sana, saya punya teman untuk dikunjungi. Banyak manfaatnya kan? Tapi saya selalu wanti-wanti buat newbie CS, jangan pernah jadikan CS sebagai aji mumpung akomodasi gratisan tapi bertemanlah dengan host kita, host CS bukan hostel. Dari total 50 malam saya traveling, hanya 9 malam saya harus bayar untuk akomodasi, itu pun hostel yang murah.

Dari CS, saya bisa ketemu malaikat ini
I stayed in cheaper countries longer. Negara-negara yang saya datangi sesuai urutan itinerary adalah Prancis, Belanda, Belgia, Jerman, Polandia, Ceko, Austria, Slovakia, Hungaria, Kroasia, Slovenia, dan Italia. Saya sengaja nggak ke Swiss, Denmark, atau negara-negara Skandinavia karena biaya hidup di sana mahal. 15 euro di negara tersebut bisa hanya 1 kali makan. Saya juga lama di Polandia, Ceko, Slovakia, Hungaria, dan Slovenia karena negara-negara tersebut masih lebih murah di bandingkan negara lain. Now it seems possible right? Kalau saya surplus dari 15 euro, uangnya saya alihkan ke negara-negara yang mahal seperti Prancis, Belanda, Jerman, dan Italia.

I took slower transportation. Di luar 15 euro per hari, saya juga ada pengeluaran transportasi antar kota. Di Eropa, paling enak ke mana-mana naik kereta, apalagi kereta cepat. Tapi mulai nggak enak kalo udah ngeliat harganya. 1 kali perjalanan naik TGV Prancis saja, bisa 50-100 euro sekali jalan. Mana ada duitnya. Akhirnya saya memilih jenis kereta yang lebih lambat, yaitu kereta regional. Bus juga sering saya pakai karena bus di Eropa reliable, tepat waktu, lebih murah, dan fasilitasnya oke. Saya rela naik bus dari Milan ke Paris 13 jam, nyampenya pagi buta, demi ongkos yang cuma 35 euro. Demi ngirit. Lagipula saya punya banyak waktu.



I bought less souvenirs. Saya tipe traveler yang nggak suka membeli banyak suvenir, apalagi ditebengin nitip barang sama orang. Untuk diri sendiri, saya membeli suvenir dalam bentuk magnet kulkas atau kartu pos. Itu pun nggak selalu bisa beli karena di negara mahal, magnet standar harganya 5 euro.

I walked... A LOT. Kalo ini sih kurang lebih karena kebanyakan kota-kota di Eropa bisa dikelilingin dengan jalan kaki. Selain menyehatkan, jalan kaki memberi kita kebebasan mengeksplor tempat, khususnya di tempat yang nggak bisa dilalui kendaraan seperti pusat kota tua. Di Paris yang kota besar saja, saya biasa berjalan kaki karena kota ini cakep banget, apalagi pas malam. Salah satu kota besar yang harus pakai transportasi ke mana-mana itu Berlin; karena ukuran dan Budapest; karena landscape. Contoh harga single ticket di Paris adalah 1.70 euro, di Amsterdam 2.80 euro, di Berlin 2.60 euro, Roma 1.50. Kebayang kan kalau ke mana-mana maunya naik metro/tram/bus? Tips saya, sebelum berangkat jalan-jalan keliling kota, sempatkan dulu buka peta dan tandai destinasinya. Dari sana, liat lagi apakah ada objek lain yang dekat? Buat rute jalan kakinya. Kalau kita bisa memaksimalkan objek dan waktunya, kita palingan cuma habis buat 2 tiket, 1 tiket untuk berangkat dan 1 untuk pulang.

I took public transportation and searched for the unlimited tickets. Nggak pernah sekalipun pantat saya menyentuh salah satu bangku taksi di Eropa. Taksi itu haram buat saya. Saya selalu naik bus, tram, metro untuk ke mana-mana supaya murah. Mau senyasar gimanapun, lebih baik tanya-tanya orang dari pada naik taksi. Nah, biasanya transportasi kota itu punya tiket terusan 24 jam yang bisa jatuhnya murah kalau kita berniat naik transportasi lebih dari 3 sampai 4 kali. Misalnya, tiket terusan Berlin 24 jam harganya 6.80 euro, sementara tiket single-nya 2.60 euro. Menguntungkan kalau naiknya lebih dari 2 kali, kan? Di Polandia, Ceko, Hungaria saya selalu pakai tiket terusan 24 jam karena harganya murah. Kalau saya capek jalan kaki, saya langsung naik random bus/tram, lalu keliling-keliling kota, lihat-lihat pemandangan, turun di halte random, terus naik bus/tram yang lain. Masing-masing kota punya website resmi sendiri untuk operator transportasi, misalnya Paris RATP, Amsterdam GVB, Berlin BVG, buka website masing-masing dan cari informasi tiket terusannya.

I catered myself. Untuk menghemat uang, saya seringnya beli makanan jadi atau beli bahan-bahan makanan di supermarket. Misalnya, untuk sarapan saya beli roti 1.50 euro di bakery. Siangnya saya beli doner kebab 4 euro. Lalu malamnya, saya beli pasta instan di supermarket seharga 2 euro. Saya memang sering berbelanja di supermarket karena mengatur makanan sendiri jauh lebih murah dibandingkan beli jadi. Selain itu, belanja menurut saya adalah pengalaman kultural, kita jadi tahu orang lokal makan apa. Saya pernah mabok plum karena lagi sale di Tesco Bratislava, pernah juga kena sakit perut karena kebanyakan minum susu yang sekotak cuma 1 euro di Vienna, makan take away nasi goreng Vietnam, atau pernah nyobain doner kebab di Brussels yang bisa dimakan sampai makan malam saking gedenya. Dan saya sehat-sehat saja tuh, malah makanan saya di sana lebih bergizi, hehehe. Selama kita nggak pernah makan di restoran, budget kita akan selalu rendah karena 1 main course minimal harganya 7 euro. Tapi apa pernah saya makan enak di restoran? Pernah dong, tapi di ditraktir host, hehehe.

I searched for free activities. Ini yang nggak kalah penting untuk mengisi waktu dengan murah, cukup ketik “free things to do in ...” langsung muncul berbagai hasil. Misalnya, di Paris: masuk Notre Dame, masuk Basilica du Sacre Coeur, jalan-jalan di Montmartre, jalan-jalan di pinggir Sungai Seine, cuci mata di Champs Elysees, atau baca buku di Jardin des Tuileries. Misalnya di Amsterdam, jalan-jalan ke Bloemenmarkt, cuci mata di kanal-kanal Amsterdam yang cakep, nyobain sampel keju, atau main ke Rembrantplatz. Misalnya di Roma, cathedral-hopping, nontonin seniman di Piazza Navona, Pantheon, dan bengong di Boboli Garden. Dan, yang kalah penting, Europe itself! Nikmati saja Eropa dengan segala keindahan arsitektur yang nggak mungkin kamu temukan di Indonesia. Perhatikan orang lokal, ngobrol dengan mereka. Makan makanan mereka. Ucapkan terima kasih dalam bahasa mereka. Wah, kalau saya terusin, bisa nggak selesai-selesai J

I always stick to the budget. Ini juga nggak kalah penting supaya dana nggak “bocor.” Pisahkan uang harian ke dompet kecil dan sisanya ke money belt yang tersimpan aman di perut. Kita harus konsisten dan bisa mengendalikan diri sebelum membeli sesuatu yang tidak penting. Kalau bukan untuk makan dan transportasi, pikirkan dulu, apa 15 euro nya akan sisa nanti? Misalnya, saya boleh membeli magnet seharga 3 euro kalau ada sisa 3 euro, dst. Mencatat pengeluaran per hari itu juga perlu, lakukan konsisten dan luangkan waktu sebentar sebelum tidur. Jangan ditunda sampai besok-besok karena nanti akan lupa dan kita nggak tahu uang itu habisnya ke mana. Saya biasa pakai aplikasi Money Lover Android App utnuk mencatatnya.

I pushed myself hard. Dan yang terakhir, untuk survive 15 euro per hari itu nggak gampang. Makanya saya harus memaksa keras diri saya untuk selalu stick to the budget. Godaan belanja di sana tuh gampang banget, apalagi cewek. Suvenir lucu-lucu, barang-barang yang jarang ada di Indonesia, kosmetik yang lebih murah dari Indonesia, sampe sale H&M yang murah banget mulai 5 euro, nah lho!! Apa saya tergoda, ya iyalah, saya cuma cewek biasa. Biasanya kalau udah begitu, saya buru-buru kabur sebelum pikiran membeli mulai datang.

10 cara di atas membuat saya berhasil traveling di negara mahal dengan hanya Rp 240.000 per hari. Saya nggak kelaparan di sana dan pulang dengan gembira. Setelah pulang, saya jadi mikir, di Eropa aja saya bisa habis segitu, apa lagi di negara lain dong ya? Hehehe. Untuk mau tahu lebih lanjut tentang pengeluaran harian saya selama di Eropa, atau nggak percaya saya bisa habis cuma 15 euo per hari, atau disangka saya ngibul, hehe, bisa langsung cek saja  di http://www.travelitarius.com/search/label/15EurosPerDay . Semoga tulisan saya bermanfaat buat pembaca dan semakin banyak yang bisa sampai ke Eropa! Cheers! J


---

Link Sosial Media:

Read More
Pernah ngalamin, momen dimana kamu sudah menanti-nantikan suatu perjalanan, bahkan sudah meriset segala pengeluaran sedetail mungkin, sudah mendaftar makanan yang ingin dimakan, sudah mengira-ngira naik apa disana, dan oleh-oleh apa yang akan dibawa? Exciting, right? Kamu nggak bisa lepas dari bayangan betapa bakal asyiknya perjalanan kamu ini. Nothing feels greater than that. Namun ketika bayangan-bayangan indah itu langsung dihancurkan oleh sesuatu, nothing feels desperating than that. Perjalanan kamu batal, uang yang sudah dikeluarkan untuk membeli tiket pp promo melayang. Kamu rugi materi dan mental. Saya menyebutnya sompret moment.

Itulah yang saya alami bulan ini, batal ke Jepang.

Saya memang sedang menjalani kuliah pascasarjana dan setiap angkatan diharuskan untuk melakukan penelitian bersama di luar kota di bulan Maret atau April tahun ini. Dibiayai dari abidin, alias atas biaya dinas, penelitian ini akan dilangsungkan selama 1 minggu penuh. Resiko kuliah di kampus yang SDM-nya belum settle, tanggal penelitian ini berubah-ubah terus. Jujur saja, saya sebagai mahasiswa yang sudah memegang tiket pergi Jakarta ke Osaka, dan pulang Tokyo ke Jakarta dengan AirAsia dan Lion Air, deg-degan menanti tanggal yang nggak pernah jelas. Duh, rasanya kesal sekali, kenapa menetapkan tanggal saja nggak mampu. Awal Februari, kepala prodi saya nyerocos gak jelas dan mengumumkan bahwa penelitian akan dilangsungkan di Solo 13-19 Maret 2016. Hampir saja saya jatuh dari kursi, saya pun bertanya, ini tanggalnya sudah fix atau belum. Kata beliau, sudah. Makin lemas, perjalanan ke Jepang saya seharusnya 12-20 Maret 2016. Sompret moment. Saya sudah pegang tiket ini, bahkan sebelum memutuskan kuliah lagi di sini. #KZL #ZBL

Bayangan-bayangan jahat mulai membentuk di pikiran. Alasan-alasan nggak ikut misalnya nikah (sama siapa??!), dirawat di rumah sakit (mit amiiit), sampai kedok penelitian saya pertimbangkan supaya saya nggak ikut ke Solo. Saya bertanya ke teman-teman, berharap dapat pencerahan dan ide-ide kabur yang lebih bombastis. Konsultasi dengan senior, bahkan konsultasi dengan orang tua. Nggak ada yang membantu. Sebagian dari mereka malah ketawa-ketiwi nyuruh saya ke Jepang aja, padahal hitung-hitung risikonya tinggi sis. Penelitian ini 1 SKS dan diabsen, kalo saya nggak ikut, saya berpotensi nggak bisa melanjutkan tesis dan kelulusan saya terhambat. Aaaaakkk, tidaaak. Saya kan pengen menggondol gelar master di Maret 2017, harus.

Lalu hitung-hitunglah kerugian finansial. Saya ingat-ingat, AirAsia pernah memindahkan jadwal pulang secara sepihak karena penerbangan dari Narita Airport dibatalkan. Jadwal kepulangan saya jadi berubah tanggal karena kepulangan dialihkan ke Haneda Airport. Saya ubek-ubek email saya dan AHA! EUREKA moment! 


Karena pengalihan penerbangan ini, saya boleh mengajukan refund dalam bentuk travel credit seharga tiket kepulangan saya, yaitu 13.700 yen atau sekitar 1.700.000 rupiah. Perlu diketahui, AirAsia nggak bisa alih nama penumpang, nggak bisa pindah rute, kalo ganti tanggal 3 kali lebih mahal, nggak bisa refund atas kemauan penumpang, dan gak bisa diapa-apain sama sekali tiketnya. Kalau nggak bisa berangkat, uang hangus melayang. Makanya ketika nemu opsi refund ini saya merasa beruntung. Tiket Lion Air pun ternyata bisa di-refund dalam bentuk transfer dana sebesar 75% dari harga beli jika pengajuannya di atas 72 jam sebelum keberangkatan. Not that bad, huh? Secara finansial, saya hanya rugi tiket pergi Kuala Lumpur ke Osaka sebesar 1.000.000 rupiah dan 25% dari tiket Lion Air sebesar 250.000.

Tapi secara mental, saya rugi berat. Saya pengen banget lihat sakura di sana, momennya pas banget. Belum lagi rencana pengen ke Wizarding World of Harry Potter di Universal Studios dan minum butterbeer. Ah, zebel.

Gimana cara refund AirAsia kalau kebetulan penerbangan dialihkan atau dibatalkan?
1. Masuk ke e-form AirAsia http://www.airasia.com/id/id/e-form.page
Halaman e-form AirAsia

2. Isi e-form tersebut dengan detail, lampirkan email pemberitahuan penerbangan dibatalkan atau email-email lainnya.
3. Setelah di-submit, kita akan mendapatkan email notifikasi dari AirAsia.
4. Kita akan mendapatkan nomor referensi, yang bisa kita pakai untuk melacak progres refund di login BIG ID. Masuk ke BIG ID kita, https://member.airasia.com/profile-landing.aspx dan klik "Status Pengembalian Dana Saya"
Diklik dan masukkan nomor kasus untuk melacak

5. Masukkkan nomor kasus untuk melihat statusnya. Tunggu saja prosesnya selama beberapa hari, jika sudah di-update statusnya, kita akan diberi email.
6. Travel credit sudah siap dipake! Yuhuuu
Ready for use!
Travel credit ini sudah saya belanjain buat backpacking keliling 7 negara ASEAN tahun depan sehabis wisuda. Mayaaan...

Ada pertanyaan terkait refund ini? Silakan isi kolom comment di bawah ya!

-@travelitarius ada yang mau bayarin saya ke Jepang? :')
Read More
Tahun baru, semangat baru, jalan-jalan ke tempat! Biasanya traveler udah pantau tanggal-tanggal merah yang ada di tahun ini dan hari-hari apa saja yang kejepit sehingga bisa ngambil cuti. Kalau beruntung, kadang-kadang bisa dapet liburan seminggu dengan hanya cuti 2 hari, hehehe... Makanya kalender cuti selalu dipantau supaya bisa tetap jalan-jalan. Apalagi kalau sudah ada promo besar maskapai, langsung kalender cuti itu ditempel di samping komputer supaya kedapetan tiket dengan tanggal yang cocok. Niat udah ada, uang juga sudah siap, terus mau ke mana kita?

Tips singkat ini akan memberi kamu sedikit insight mengenai pilihan destinasi buat menghabiskan jatah cuti kita.

Indonesia
Dari semua negara yang pernah saya datangi, nggak ada yang ngalahin Indonesia dalam hal budaya, makanan, dan wisata alamnya. Masing-masing negara pasti memiliki keunikan masing-masing untuk dieksplor, dan negara kita tercinta ini terkenal keindahan alamnya. Belum lagi kemudahan-kemudahan dalam hal bahasa, uang, komunikasi, Indonesia bisa jadi tempat untuk menambah pengalaman jalan-jalan. Go out and explore! Dari Jakarta saja, dengan budget minim, kita bisa pergi ke Kepulauan Seribu untuk menikmati pantainya. Pengen wisata kuliner? Setiap daerah pasti punya. Malah kalau kita datang ke asal tempat, perut kita akan selalu hepi karena makanannya enak-enak. Punya uang lebih, bisa ke kota-kota di Jawa untuk mendaki gunung, menyusuri pantai, mengarungi jeram sungai, atau sekedar mampir-mampir buat makan. Impian saya sampai saat ini belum tercapai: road trip NTB dan NTT.
Recommended (minimal 3-5 hari): Bali, Makassar, Lombok, Komodo, Derawan, Kepulauan Ora, Sumba

Singapura dan Malaysia (duh, bosen?)
Kenapa dua negara ini? Karena dari segi bahasa, kita bisa pakai Bahasa Indonesia dasar yang mirip-mirip dengan Melayu, makanannya masih relatif sama, dan culture shock-nya tidak berlebihan. Selain itu, tiket promo maskapai-maskapai regional Asia banyak yang menjual tiket murah dengan rute Indonesia ke kedua negara ini karena merupakan rute gemuk sehingga mereka biasa berkompetisi menjaring penumpang. Saya pernah mendapatkan tiket murah kurang dari lima ratus ribu untuk ke Singapura, sudah pulang pergi dan termasuk pajak. Ngiler banget kan... Untuk biaya jalan-jalan di sana, memang Singapura jauh lebih mahal dari pada Jakarta, tapi kita bisa merasakan “luar negeri banget” di negara ini. Sejauh ini saya sudah tiga kali ke Singapura dan tiga kali ke Kuala Lumpur, tetapi nggak pernah merasa bosan karena banyak yang menarik dan makanan di sana enak-enak, hehehe... Dan serunya lagi, event-event terkenal, F1 misalnya, atau konser artis besar sering diadain di dua negara ini, Indonesia di-skip, kan asyem.
Recommended (minimal 3 hari): Kuala Lumpur, Penang, Singapura

Negara-negara ASEAN non-Melayu lainnya
Karena saya suka banget dengan hal-hal yang berbau budaya, menurut pendapat saya, ASEAN itu surga buat jalan-jalan. Rasa makanannya relatif lebih sama, budaya yang tidak terlalu jauh, bebas masuk tanpa visa dan landscape alamnya juga gak kalah bagus. Seringnya, promo AirAsia atau maskapai low budget regional membuat kita bisa mengeksplor negara-negara ini. Tiket murah ke Bangkok atau Ho Chi Minh City suka diobral murah. Kesempatan bagus banget! Saya pernah dapat tiket pp KL-Yangon (Myanmar) seharga 500 ribu rupiah saja karena promo free seats AirAsia. Dan tahun depan saya akan backpacking keliling ASEAN dengan tiket 550 ribu pp karena promo. Kalau punya waktu banyak, paling cocok ya mengeksplor negara-negara ini.
Recommended (minimal 5 hari): Bangkok, Ho Chi Minh City, Siem Reap, Yangon, pulau-pulau di Filipina

Asia yang Murah
Haha, kategori apa ini, Asia yang murah. Untuk traveler Indonesia, bisa dipertimbangkan ke India atau Nepal (visa on arrival) karena biaya hidup di sana relatif murah. Masih aman buat kantong Indonesia. Nepal sering disebut-sebut sebagai high-value destination karena dengan harga yang murah, kita bisa melihat kekayaan budaya, keindahan alam, dan keunikan bangsa yang sangat melimpah. Walaupun saya belum pernah ke dua negara ini, melihat dari pengalaman backpacker lain, kedua negara ini patut dikunjungi. 
Recommended (minimal 1 minggu): Jaipur, New Delhi, Agra, Kathmandu, Pokhara

Asia yang Mahal
Here comes the list, dimulai dari 3 negara besar Asia Timur yang butuh visa: Cina, Korea Selatan, dan Jepang. Jalan-jalan ke tiga negara ini relatif mahal untuk kantong orang Indonesia. Kalau punya uang dan waktu lebih dan pengen cuti yang agak banyak, bisa ke salah satu negara ini, tergantung preference-nya. Kalau pengen lihat salah satu Seven Wonders, bisa ke Beijing untuk melihat Great Wall, Xian untuk melihat Terracotta Army. Kalau mau borong produk kosmetik Korea dan fans berat K-Pop, bisa ke Seoul, atau fans berat wisata alam bisa ke Jeju Island. Kalau pengen ke Universal Studio yang ada Harry Potter Wizarding World-nya (cuma ada 2 di dunia: Florida dan Osaka), nyobain pake yukata jalan di Kyoto ala geisha, nyobain makanan Jepang asli, ya ke Tokyo, Osaka, Kyoto. Selain 3 negara ini, Hongkong, Macau, dan  Taiwan bisa jadi pilihan juga.
Recommended (minimal 1 minggu): Tokyo, Osaka, Kyoto, Beijing, Seoul, Jeju

Eropa, Australia, dan USA
Kalau punya waktu minimal 2 minggu karena jatah cutinya bisa dijebret semua (lucky you), pilihan lain adalah ke Eropa, Amerika, atau Australia. Saya cuma pernah ke Eropa, belum pernah ke benua lain, jadi belum bisa bicara banyak, hehehe
Recommended Eropa (minimal 2 minggu): semua negara, huehehehe

Gimana, jadi kalo ada hari libur kejepit-kejepit dan promo besar AirAsia, sudah kebayang kan mau ke mana. Ada tambahan? Silakan isi comment di bawah ya!

-@travelitarius happiness is stored in a flight ticket
Read More
Selamat bulan Februari! Udah lama banget gak nulis, gara-gara tugas kuliah yang nggak ada habis-habisnya, hiks... Mumpung lagi males belajar, gimana kalo kita ngomongin budget? Kali ini saya akan menguraikan pengeluaran di Myanmar. Saya ke sana pada tahun 2015, jadi semoga harga-harga dicantumkan di sini masih bisa memberikan gambaran.

First thing first, menurut saya jalan-jalan di Myanmar itu mahal. Kemana-mana harus naik taksi dan kalau kita ke Bagan, kita harus membayar biaya masuk ke kota dengan ribuan candi ini, dan biaya ini mahal. Karena ke mana-mana naik taksi, maka lebih baik memang kita harus pergi minimal berempat orang supaya bisa sharing biaya. Tapi karena saya ke sana sendirian, jadinya terasa mahal.


PENGELUARANDALAM KYATDALAM IDR
TRANSPORTASI
Taksi ke Terminal Bus Aung Mingalar K6,000Rp78,000
Taksi ke Terminal Bus EliteK1,000Rp13,000
Tiket bus Elite ke MandalayK10,700Rp139,100
Taksi ke Royal Yadanarbon Hotel MandalayK4,000Rp52,000
Parkir Mandalay HillK200Rp2,600
Sewa ojek 1 hari di MandalayK12,000Rp156,000
Tiket bus JJ Express VIP ke YangonK18,500Rp240,500
Sewa delman seharian di BaganK20,000Rp260,000
Taksi ke Shwedagon PayaK2,000Rp26,000
Taksi ke City Hall YangonK2,500Rp32,500
Taksi ke Hninn Si Budget Inn YangonK3,000Rp39,000
Taksi ke Yangon International AirportK8,000Rp104,000
SUBTOTALK87,900Rp1,142,700
MAKAN
Roti untuk bekal perjalanan (2 buah)K1,300Rp16,900
Makan siang di MandalayK1,000Rp13,000
Makan siang di YangonK2,500Rp32,500
Makan malam di Yangon (kelas mal)K3,500Rp45,500
Snack Myanmar (oleh-oleh)K7,350Rp95,550
Teh MyanmarK1,200Rp15,600
SUBTOTALK16,850Rp219,050
AKOMODASI
Royal Yadanarbon Hotel Mandalay (1 malam)K22,000Rp286,000
Hninn Si Budget Inn Yangon (1 malam)K22,000Rp286,000
SUBTOTALK44,000Rp572,000
JALAN-JALAN
Tiket masuk Shwedagon Paya YangonK8,000Rp104,000
Tiket masuk kota BaganK22,000Rp286,000
Donasi di kuil Mandalay HillK300Rp3,900
Donasi di Mahamuni Pagoda MandalayK500Rp6,500
SUBTOTALK30,800Rp400,400
SUVENIR
Longyi 1 buahK10,000Rp130,000
Bedak thanakaK4,150Rp53,950
Magnet suvenir MyanmarK2,000Rp26,000
LacquerwareK5,000Rp65,000
Suvenir gantungan kunciK2,000Rp26,000
SUBTOTALK23,150Rp300,950
TOTAL PENGELUARANK202,700Rp2,635,100

Oke, oke, saya memang boros di bagian transportasi. Tapi karena saya nggak punya waktu banyak, sementara ingin melihat 3 kota dalam waktu singkat, saya terpaksa memilih cara yang cepat, mudah, dan nyaman untuk melihat kota seperi naik taksi, sewa ojek, dan sewa delman. Walaupun agak mahal, menurut saya setimpal dengan pengalamannya... Saya bebas ngobrol dengan supir saya tentang Myanmar dan mereka memang baik-baik banget! Jadi berasa ikhlas bayar sedikit mahal, hehe... Untuk taksi, harga di atas adalah harga wajar, saya sering bertanya dengan petugas hotel mengenai tarif taksi, dan memang supir taksi di sana tidak mematok tarif tinggi untuk turis. Untung saja... Myanmar, stay awesome...

Ada komen, tambahan, atau pertanyaan? Silakan isi kolom komen dibawah ya!

-@travelitarius do you want to time travel? Go to Myanmar, a place where you will feel the most humble feelings
Read More
Previous PostOlder Posts Home